Muhammad dan Perang Fijar (10)

Muhammad Remaja dan Perang Fijar (10)

Ketika Muhammad menginjak umur 14 tahun, kemelut perang fijar terjadi antara Bani Kinanah yang bersekutu dengan kaum Quraisy melawan Bani Qays Ailan. Perang terjadi kala itu, tepatnya tahun 591 Masehi. Perang fijar terjadi karena adanya pemicu dendam dan permusuhan antara kedua kabilah tersebut.

Sudah menjadi tradisi Arab, ketika seorang saudagar akan mengutus ekspedisi kafilah dagang ke Al-Haram, maka ia harus membawa penjamin dari kalangan kabilah yang berada di sekitar pusat perdagangan. Penjamin itu berasal dari suku terkemuka, untuk mengamankan perjalanan dagang melewati rute atau teritori kekuasaan kabilah-kabilah Arab.

Suatu hari, Nu’man ibn Mundzir, seorang Gubenur Hirah dari Kerajaan Persia, memberikan kuasa jaminan pengamanan kafilah dagangnya kepada Urwah dari golongan Hawazin, dari Bani Qays Ailan, bukan kepada Al-Barradl, dari Bani Kinanah. Kedua kelompok kabilah ini, sudah lama tersimpan dendam dan permusuhan. Al-Barradl ibn Qays bertanya kepada Nu’man, “Apakah engkau mau berikan kuasa jaminan itu kepada Bani Kinanah, Wahai Nu’man?” “Boleh, dan kepada siapa saja yang saya kehendaki sesama manusia.” Jawab Nu’man.

Suatu hari, Urwah pergi keluar dan Al-Barradl mengikutinya sampai di suatu tempat bernama Aliah. Di sana lah terjadi tragedi pembunuhan. Al-Barradl mengambil kesempatan ketika Urwah lengah untuk menghabisinya, padahal saat itu adalah bulan yang dimuliakan (Al-Syahr Al-Haram), di mana disepakati masyarakat Arab tidak dibolehkan adanya perang dan pertumpahan darah. Tragedi pembunuhan itu memicu perang yang semakin meluas antar dua kabilah dan melibatkan kabilah-kabilah lain yang berkoalisi. Perang itu dinamakan dengan perang Fijar yang artinya pelanggaran dan pengkhianatan terhadap bulan yang dimuliakan.

Tragedi pembunuhan Urwah itu dengan cepat menyebar dan sampai kepada kelompoknya, Hawazin. Mereka kemudian mencegat sekelompok orang dari Bani Kinanah yang melakukan perjalanan ke Al-Haram. Mereka bertempur sampai larut malam, beberapa hari sampai akhirnya masuk ke Al-Haram. Terjadilah saat itu permusuhan dan perang yang terus menerus. Balas dendam dan pertumpahan darah terjadi selama hampir empat tahun. Tidak ada di antara mereka figur yang mampu melerai dan mendamaikan.

Muhammad yang masih remaja menyaksikan itu semua. Dendam, permusuhan dan perang antar kabilah menjadi bagian dari pengalaman yang ia lihat dan rasakan pada masa remajanya. Menurut sebagian riwayat, suatu hari Muhammad remaja pernah terlibat bersama paman-pamannya berjibaku di medan perang, ia terlihat memungut anak panah lawan yang menyasar mereka dan berjatuhan lalu diberikan kepada paman-pamannya untuk bertahan.

Muhammad pada usia remaja belajar banyak hal dari kehidupan masyarakat Arab, tradisi kabilah yang rentan dengan pelanggaran janji dan kesepakatan, dendam, permusuhan, dan perang.

(Anis Mashduqi, Disarikan dari Al-Mausuah Al-Muhammadiyyah karya Fathi Al-Ibyari)

Sebelumnya

Rahib Bahira dan Kenabian Muhammad (09)

Sesudahnya

Khadijah, Muhammad dan Rahib (11)