Rahib Bahira dan Kenabian Muhammad (09)

Rahib Bahira dan Kenabian Muhammad (09)

Suatu hari, Abu Thalib berencana melakukan perjalanan dagang ke Syams bersama sekelompok kafilah dagang. Muhammad mendekat kepada paman yang baik itu, “Ajak aku bersamamu, wahai paman. Aku tidak memiliki sesiapa lagi di sini.” Hati Abu Thalib tersentuh dan seketika terharu, ia mengajaknya, “Engkau pergi bersamaku, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.”

Akhirnya keduanya berangkat menuju Syams. Sesampainya di sebuah tempat bernama Bushra, sebuah daerah di negara Syams, bertemu lah mereka dengan seorang rahib yang selama ini tidak pernah mereka temui, tidak pula pernah mengajak mereka berbicara sedemikian akrabnya. Ketika sekelompok kafilah dagang itu medekat, sang rahib terlihat keluar dari tempat peribadatannya, Bahira namanya. Ia menyambut mereka dan membuatkan makanan untuk disantap.

Sekelompok kafilah berkumpul, duduk melingkar hendak menyantap makanan bersama, tanpa Muhammad ada di antara mereka. Ketika itu, Muhammad berumur 12 tahun. Bahira memperhatikan mereka satu-persatu, “Wahai kaum Quraisy, jangan ada satu pun di antara kalian terlewat untuk makan bersama.” Jawab salah satu di antara mereka, “Tidak ada wahai rahib yang baik, kecuali anak kecil yang memang seyogyanya tidak duduk bersama kami, ia masih terlalu muda.” “Jangan begitu, ajak ia ke sini dan makan bersama.”

Setelah semua selesai makan, Bahira bertanya kepada Muhammad yang duduk di antara mereka, “Aku bertanya kepadamu, demi Latta dan Uzza, maukah engkau kabarkan kepadaku apa yang engkau tahu?” Muhammad menjawabnya, “Jangan engkau bertanya kepadaku atas nama Latta dan Uzza. Sungguh, aku tidak membenci sesuatu melebihi kebencianku kepada keduanya.” Bahira semakin termangu, kemudian menanyakan tentang akhlaknya, kaumnya, kesehariannya dan riwayat hidupnya. Muhammad menjelaskan semuanya. Bahira terkaget namun sedemikian tenang. Ia menemukan kesesuaian apa yang disampaikan Muhammad dengan semua sifat-sifat kenabian. Ia memperhatikan lebih seksama ke arah Muhammad, di antara kedua pundaknya, ia menangkap tanda-tanda kenabian terakhir. Ia seketika memanggil semua anggota kafilah, “Siapa di antara kalian yang mengasuh dan menjaganya? Jaga baik-baik dari keburukan orang-orang Yahudi yang jahat.”

Setelah misi dagang selesai, Abu Thalib bergegas pulang, menuju Makah. Tiba-tiba ia merasa khawatir dan takut akan keselamatan Muhammad, setelah perjumpaan mereka dengan Bahira di Bushra dan kabar berita yang disampaikanya.

Muhammad dengan aman tumbuh sebagai remaja di bawah asuhan Abu Thalib, ia sudah semakin dewasa. Abu Thalib sedemikian tekun dan seksama menjaga dan melindungi Muhammad, sebagaimana dipesankan Bahira.

Muhammad tumbuh menjadi pribadi yang terbaik di antara sebayanya, dengan kehormatan terbaik, budi pekerti terbaik, dicintai orang-orang sekitarnya, memiliki kemurahan hati yang dalam kepada sesama, paling jujur dan paling bisa dipercaya. Kaumnya mentahbiskannya sebagai “Al-Amiin”.

(Anis Mashduqi, Disarikan dari Al-Mausuah Al-Muhammadiyyah karya Fathi Al-Ibyari)

Sebelumnya

Allah Mendidik Muhammad (08)

Sesudahnya

Muhammad dan Perang Fijar (10)