Perawakan Muhammad (13)

Perawakan Muhammad (13)

Muhammad menikah dengan Khadijah putri Khuwailid. Ia memberinya mahar dua puluh ekor anak unta terbaik. Umur Muhammad saat itu masih dua puluh lima tahun, sedangkan Khadijah sudah menginjak umur tiga puluh lima tahun. Sebagian riwayat menceritakan, umur Khadijah belum melebihi dua puluh delapan tahun.

Meskipun begitu, bahtera rumah tangga Muhammad dan Khadijah sedemikian tenteram dan bahagia. Muhammad adalah sebaik-baik suami, sesempurnanya, dan Khadijah adalah sebaik-baik istri. Keduanya hidup bersama, penuh dengan suka cita. 

Muhammad memiliki paras yang rupawan, terlihat tubuh yang cukup tinggi dan tenang ketika berjalan dan tidak sedikitpun ada citra kesombongan, tidak pula terlihat pendek dan serampangan, memiliki rambut hitam pekat dan berombak, kedua alisnya terlihat lebar, di atas dua bulu mata yang seperti garis melengkung yang seakan bertemu di tengahnya, matanya lebar, bagian pinggirnya putih bersih dan ada kemerahan, menambah daya pikat siapa saja yang menatapnya. 

Ketika Muhammad mamandang, spektrumnya seakan mampu menangkap kesemua detail benda-benda di sekitarnya, ia memiliki hidung yang seperti garis lurus, giginya terlihat ketika tertawa, putih dan tertata rapi, dengan jenggotnya yang lebat, leher yang panjang, dada dan pundak yang lebar, warna kulitnya terang dan bersih, tebal telapak tangan dan kakinya. Ketika Muhammad berjalan, terlihat tubuhnya sedikit melengkung ke depan, memiliki langkah yang cepat dan tanpa ragu, pada paras wajahnya selalu terlihat citra seolah tafakkur dan senantiasa merenungkan, pada penglihatannya terkesan kuat kemampuan determinasi yang bisa membuat siapapun melunak dan tunduk atas perintahnya.

Tidak mengherankan, demikian lah sifat-sifat dan perawakan Muhammad, mampu memantik perhatian, menarik simpati dan cinta seorang Khadijah serta ketundukannya. Tidak mengherankan jika kemudian Khadijah mempercayakan seluruh hartanya kepada Muhammad untuk mengaturnya, dan memberikan kesempatan kepada Muhammad untuk memiliki waktu luang melakukan tafakkur dan permenungan dalam waktu-waktu khusus pada setiap harinya.

(Anis Mashduqi, Disarikan dari Al-Mausuah Al-Muhammadiyyah karya Fathi Al-Ibyari)

Sebelumnya

Mempersunting Khadijah (12)

Sesudahnya

Menyambut Kedatangan Santri Baru