Membangun Kembali Ka’bah (15)

  • Membangun Kembali Ka’bah (15)

Muhammad senantiasa berinteraksi dengan penduduk Makah dengan ramah. Melebur bersama mereka dalam kehidupan sehari-hari setelah menikah dengan Khadijah. Penduduk Makah saat itu sedang disibukkan dengan rencana “gawe besar” membangun kembali Ka’bah setelah rusak karena banjir yang meluap dari dataran-dataran tinggi di sekitarnya.

Penduduk Makah sudah merencanakannya beberapa waktu dan mulai berpikir bagaimana memulainya. Bagaimana Ka’bah bisa dibangun kembali dengan meratakan bangunan, membongkar pintu-pintu dan atapnya terlebih dahulu, di samping itu tanpa adanya kekhawatiran terjadi pencurian barang-barang berharga di dalam Ka’bah sehingga menyebabkan murka Tuhan pemilik Ka’bah.

Secara kebetulan, pada saat itu laut telah menghempaskan sebuah kapal dari Mesir, milik seorang pedagang bernama Baqum. Ia sebetulnya adalah seorang arsitek dan pekerja bangunan, yang mengerti tentang perdagangan. Ketika penduduk Quraisy mendengar kabar ini, maka Walid ibn Al-Mughirah bersama beberapa tokoh penduduk Makah berangkat ke Jedah. Mereka membeli kapal yang rusak itu dari Baqum dan menawarkan kepadanya untuk pergi ke Makah, membantu mereka untuk membangun kembali Ka’bah. Di Makah, ada seorang kristen koptik yang pandai dalam pertukangan kayu. Ia bersedia membantu dan bekerjasama dengan Baqum.

Penduduk Quraisy kemudian membagi pekerjaan mereka menjadi empat bagian kelompok mengikuti jumlah pojok Ka’bah. Setiap kabilah bekerja memugar dan membangunnya dimulai dari pojok bagian masing-masing, di bawah arahan dan perintah Baqum. Sebagian mereka memindahkan batu-batu granit kehijauan dari pegunungan di sekitar Ka’bah, Muhammad ada di antara mereka turut bekerja. 

Ketika bangunan Ka’bah sudah setinggi batas orang berdiri dan tiba waktunya Hajar Aswad akan diletakkan melekat di dinding Ka’bah bagian timur, mereka berselisih pendapat. Siapa di antara mereka yang paling berhak untuk memasang kembali Hajar Aswad di tempatnya? Perselisihan terjadi hingga hampir saja terpantik perang saudara di antara mereka. 

(Anis Mashduqi. Disarikan dari Al-Mausuah Al-Muhammadiyyah karya Fathi Al-Ibyari)

Sebelumnya

Studium General Santri Baru

Sesudahnya

Muhammad dan Hajar Aswad (16)