Ghibah yang Dibolehkan

GHIBAH YANG DIBOLEHKAH
 
Lisan merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang teramat besar. Ia juga merupakan salah satu ciptaan Allah SWT yang menakjubkan. Ukurannya yang kecil dibandingkan anggota tubuh lainnya, akan tetapi pengaruhnya besar dan berdampak luas. Dari lisan persaksian tentang keesaan Allah SWT diikrarkan dan pengakuan tentang kenabian Muhammad SAW diucapkan. Tapi dengan lisan pula kekufuran bisa tercipta dan kejahatan maupun kedlaliman dilakukan. Lebih menakjubkan lagi, dengan lisan semua hal ihwal tentang Pencipta, makhluk, yang ada dan tidak ada, yang gaib dan terlihat tidak lepas dari pembicaraan lisan, bahkan semua pengetahuan yang dihasilkan para ulama tidak bisa lepas dari perbincangan lisan.
 
Manfaat lisan memang besar, akan tetapi bahaya lisan juga besar. Maka tidak heran Nabi Muhammad senantiasa menasehati umatnya untuk berhati-hati menjaga lisannya. Ia pernah mengatakan kepada para Sahabatnya, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah RA,  “Barang siapa beriman kepada Allah dan Rasulnya maka berkatalah yang baik atau diam.” Pada kesempatan yang lain, ia juga mewanti para Sahabatnya, “Allah merahmati seseorang yang ketika berbicara ia mendapatkan keberuntungan dan ketika diam ia selamat.” Ia juga bersabda, sebagaimana diriwayatkan Anas ibn Malik,  “Tidak lurus iman seseorang sehingga lurus hatinya, tidak lurus hati seseorang sehingga lurus lisannya.” Dalam berbagai kesempatan para sahabat belajar dari Rasulullah SAW tentang pentingnya menjaga lisan, sebagaimana Ibn Masud pernah mengatakan, “Tidak ada bagian jasad manusia yang lebih penting untuk “dipenjarakan” melebihi lisannya.”
 
Maka sikap terbaik seorang muslim adalah menjaga lisannya dari perkataan yang menyebabkan mala petaka bagi dirinya, orang lain maupun masyarakatnya, sebagaimana sikap seorang muslim harus menjauhkan lisannya dari perkataan yang mengandung ghibah, namimah, fitnah, riya’ dan perbantahan yang tidak ada ujungnya. Seorang muslim diperbolehkan berkata pada hal-hal yang dibolehkan, hukumnya menjadi mubah, akan tetapi lebih baik seorang muslim berkata pada hal-hal yang disunahkan atau diwajibkan, menghindari perkataan yang tentunya dimakruhkan dan diharamkan. Hal-hal yang disunahkan berupa perkataan sebagaimana wirid, dzikir, membaca Alquran, membaca maulid, membicarakan ilmu dan lain sebagainya. Sedangkan hal-hal yang diwajibkan tentunya sebagaimana dzikir dan wirid yang diwajibkan dalam shalat, berdakwah dan menebar ilmu pengetahuan baik berupa fardlu kifayah maupun fardlu ain.
 
Akan tetapi, ada beberapa hal yang harus diketahui sebagai seorang muslim, bahwa tidak semua bentuk perbuatan lisan yang hukum asalnya diharamkan sebagaimana ghibah selalu saja haram dilakukan. Ghibah adalah membicarakan orang lain tentang sesuatu yang menyebakan ia tidak rela dan tidak menyukainya. Imam Nawawi menjelaskan bahwa ada beberapa kondisi di mana ghibah tidak diharamkan, yaitu:
 
1. Attadlallum, yaitu ketika seorang muslim dirugikan, diancam, didlalimi sehingga untuk menuntut keadilan dan menyelamatkan dirinya ia diperbolehkan untuk membicarakan orang lain di depan pengadilan atau siapapun yang bisa menolongnya.
2. Alisti’anah li taghyir al-munkar, yaitu meminta pertolongan kepada orang lain untuk merubah kemungkaran yang dilakukan seseorang. Seorang muslim boleh membicarakan seseorang yang jelas melakukan kemungkaran dan berharap orang yang ia ajak bicara mampu untuk terlibat merubahnya.
3. Alistifta’, yaitu dalam rangka meminta fatwa atau pendapat hukum kepada seorang ahli terkait dengan perbuatan seseorang, maka dibolehkan bagi dirinya untuk bercerita dan membicarakan orang lain yang terkait dengan fatwa yang ia mohonkan.
4. Tahdzir Almuslimin min Asyarr wa Nashihatihim, yaitu menjaga dan menyelamatkan orang lain dari perbuatan buruk dan jahat seseorang. Dalam kondisi seperti ini seorang muslim diperbolehkan untuk membicarakan kekurangan dan perbuatan seseorang yang bisa merugikan orang lain.
5. An yakuna mujahiran bi fisqihi, yaitu membicarakan seseorang yang sudah sering melakukan kefasikan atau perbuatan dosa di depan banyak orang, dalam arti orang tersebut sudah tidak peduli lagi dengan kesahalan yang ia perbuat dalam kondisi ia mengetahui hukumnya. Dalam kondisi seperti ini seorang muslim diperbolehkan membicarakannya di depan orang lain.
6. Atta’rif, yaitu dalam rangka mengenali seseorang. Seorang muslim diperbolehkan untuk mensifati seseorang di depan orang lain dengan karakternya, seperti si Jangkung, si Kurus, Si Gundul, sekedar untuk menjelaskan kepada orang lain sehingga mudah untuk mengetahui atau mengenal orang yang dimaksudnya. Akan tetapi kondisi seperti ini menjadi haram apabila dimaksudkan untuk mengungkap kekurangannya.  
 
Penjelasan Imam Nawawi tersebut adalah sebagai bentuk pengecualian atas hukum ghibah yang diharamkan, sebagaimana sebuah kaidah dalam kaidah-kaidah fiqh yang ada bahwa “li kulli qaidatin mustasnayat” (setiap kaidah mempunyai pengecualian-pengecualian). Hukum asal ghibah adalah haram, akan tetapi dibolehkan paling tidak dalam kondisi-kondisi seperti di atas. Sebagai muslim, marilah kita senantiasanya menjaga lisan kita dari perkataan yang diharamkan dan memanfaatkannya untuk mengagumi kebesaran Allah SWT dengan mengatakan yang baik dan bermanfaat baik bagi diri sendiri, orang lain maupun masyarakat.
 
HM. Anis Mashduqi
 
 
 
 

Sebelumnya

Sejarah Maulid Barzanji

Sesudahnya

Legitimasi Kebohongan