DHAHIR DAN BATHIN

DHAHIR DAN BATHIN

Anis Mashduqi

 

Dualisme dhahir dan bathin senantiasa menjadi isu polemis dalam kancah pemikiran Islam. Keduanya sering dibahasakan dengan kontradiksi antara syariat dan hakikat, antara fiqih dengan tasawwuf. Tidak hanya menjadi isu polemis antara dua disiplin ilmu, dhahir dan bathin seringkali lekat dengan perdebatan dalam satu disiplin ilmu sebagaimana dalam hukum Islam antara teks dan substansi, antara nash dan maqashid al-nash, antara syariah dan maqashid al-syariah. Keduanya, dalam sekian perdebatan ilmu, seringkali atau bahkan selalu diposisikan sebagai bertentangan, tidak bertemu, saling menjauh, meski banyak di kalangan ilmuan telah mencoba menarasikan keduanya senyawa dan konvergen.

 

Menarik untuk mencermati pandangan para ulama sufi terkait dualisme dhahir dan bathin ini. Bagi kalangan pelaku suluk tarekat, hampir seluruhnya, atau ambil contoh misalkan kalangan Naqsyabandiah dan Syadziliyah, memandang dualisme dhahir dan bathin sebagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Mereka hampir serentak mengatakan bahwa dhahir dan bathin, keduanya adalah bagian dari syariat. Dalam arti, syariat itu bangunan yang terdiri dari unsur dhahir dan bathin, keduanya harus seiring bersamaan dan bersifat padu. Dhahir dan bathin, sejauh apapun keilmuan yang dihasilkan melalui perspektif keduanya, tidak bisa keluar dari syariat. Atau katakanlah syariat itu payung bagi keduanya.

 

Bisa dikatakan, para ulama sufi tidak mau melakukan dikotomi antara syariat dan hakikat. Bagi mereka, syariat adalah ilmu yang merengkuh perspektif dhahir dan bathin sekaligus, dirayah dan riwayah. Ketika suatu perspektif ilmu mampu mengsinergikan keduanya, maka itulah ilmu syariat. Selama segala sesuatu masih berada dalam wilayah hati, maka itulah bathin, sampai ketika ia kemudian menjadi bagian dari tindakan lisan, anggota badan, maka itulah dhahir. Perbuatan-perbuatan yang terlihat seperti gerakan tubuh dalam ibadah, hudud, talak, jual beli dan lainnya termasuk dalam kategori dhahir, sedangkan perbuatan-perbuatan non visual, tak terlihat sebagaimana perasaan-perasaan hati, maqamat dan ahwal adalah bagian dari bathin.

 

Relasi antara dhahir yang merupakan sumber perbuatan yang tampak dan bathin yang menentukan perbuatan-perbuatan hati adalah bahwa sumber dari perbuatan yang tampak itu tidak lain perasaan-perasaan hati. Suatu perbuatan lahir yang baik berasal dari hati yang baik dan begitu juga berlaku sebaliknya. Sehingga tidak menjadi samar lagi hubungan antara dhahir dengan bathin. Basyar ibn Al-Haris pernah mengatakan, “Tasawwuf itu nama bagi tiga hal, yaitu; Ketika cahaya ma’rifat seseorang tidak menutupi cahaya kewiraiyannya; Tidak mengatakan sesuatu dalam pengetahuan batinnya yang bertentangan dengan Al-Quran dan Al-Sunnah dan; Karamah yang ia miliki tidak melanggar rahasia-rahasia hukum Islam.” Al-Haris Al-Muhasibi juga mengatakan, “Barang siapa benar batinnya dengan muraqabah dan ikhlas, maka Allah menghiasi sikap lahiriahnya dengan bersungguh-sungguh dan mengikuti sunah-Nya.”

 

Menjelang wafatnya, Abu Utsman Al-Hiri menegur putranya yang merobek-robek baju. Abu Ustman berkata, “Menyalahi sunnah, wahai anakku, adalah pertanda telah terjadi riya’ dalam batinnya.” Ali Ibn Sahal Al-Asbahani juga mengatakan, “Menjaga perasaan-perasaan hati adalah pertanda kesadaran diri.” Dimaksudkan dalam hal ini, seseorang yang terus menerus mengawasi hatinya, di mana ia tidak menjadikan tujuan segala sesuatu kecuali Allah SWT, maka sikap itu merupakan bagian dari kesadaran diri untuk selamat dari perbuatan dosa dalam perbuatan nyata, melanggar hukum-hukum Allah SWT yang tampak oleh mata.

 

Sebelumnya

Gus Dur, Tokoh Madura dan Madrasah